- by 27DERAJAT.COM
- May, 16, 2025 01:16
FAKTUALSUMSEL, PALEMBANG - OPINI
Oleh: Dr. drh. Jafrizal, MM
Siapa bilang daging kerbau kalah pamor dari daging sapi? Di tangan masyarakat kreatif dan pecinta cita rasa nusantara, daging kerbau justru mampu menghadirkan kekayaan rasa yang kuat, gurih, dan khas. Kini saatnya Sumatera Selatan — dengan plasma nutfah unggul Kerbau Rawa Pampangan — menunjukkan kebanggaannya lewat kuliner berbahan baku lokal yang membumi dan bernilai tinggi.
Dari Rawa ke Dapur Nusantara
Kerbau rawa Pampangan adalah warisan alam dan budaya Sumatera Selatan. Hidup di ekosistem rawa lebak yang luas dan alami, kerbau ini tumbuh kuat, tangguh, dan sehat — menghasilkan daging berkualitas tinggi dengan cita rasa yang berbeda dari ternak lain.
Kini, peluang terbuka lebar untuk menjadikan kerbau bukan hanya simbol pertanian tradisional, tetapi bahan baku utama kuliner modern yang menggugah selera.
Bayangkan, dari satu jenis ternak, lahir aneka hidangan yang menggoda:
Rendang Daging Kerbau, dengan cita rasa pekat, gurih, dan aromatik khas rempah Nusantara.
Pindang Daging Kerbau, segar dengan kuah bening berpadu asam nanas dan rempah yang membangkitkan selera.
Pindang Sumsum dan Tulang Kerbau, kenyal, gurih, dan bergizi tinggi.
Soto Daging Kerbau yang hangat di lidah dan menguatkan tubuh.
Sop Buntut Kerbau — versi lokal yang tak kalah elegan dari hidangan hotel berbintang.
Berkurban dan aqikah dengan menggunakan kerbau
Dari Kuliner ke Kemandirian Ekonomi
Gerakan mengangkat kuliner berbahan baku kerbau bukan sekadar tren kuliner, melainkan strategi ekonomi berbasis kearifan lokal.
Dengan meningkatnya permintaan daging kerbau untuk restoran dan UMKM, otomatis rantai nilai usaha peternakan ikut bergerak:
• Peternak mulai bergairah memelihara dan mengembangbiakkan kerbau rawa.
• Pakan lokal dan padang penggembalaan dimanfaatkan optimal.
• Industri olahan dan kuliner rakyat tumbuh berdampingan.
• Wisata kuliner dan agrowisata rawa pun ikut hidup.
Inilah sinergi yang seharusnya tumbuh dari dapur ke sawah, dari meja makan ke kandang.
Sebuah ekosistem ekonomi yang bukan hanya mengenyangkan, tapi juga menghidupkan.
Kerbau sebagai Simbol Ketahanan dan Kebanggaan
Kerbau rawa bukan sekadar hewan ternak — ia adalah simbol keteguhan masyarakat Pampangan, yang hidup harmonis dengan alam. Hewan yang sabar, kuat, dan setia membantu petani itu kini pantas mendapat penghargaan baru: sebagai ikon pangan lokal yang berdaya saing.
Dengan dukungan teknologi budidaya, kebijakan yang berpihak, serta promosi kuliner yang konsisten, Sumatera Selatan bisa menjadi sentra kuliner daging kerbau nasional.
Bayangkan bila wisatawan datang ke Palembang, bukan hanya untuk pempek, tapi juga untuk mencicipi Rendang Kerbau Pampangan, Pindang Tulang Kerbau, dan Soto Kerbau khas rawa.
Itu bukan mimpi — itu visi yang bisa diwujudkan bila pemerintah daerah, peternak, dan pelaku kuliner berjalan seirama.
Menghidupkan Nilai, Mengangkat Martabat
Gerakan “Kuliner Serba Daging Kerbau” adalah cara cerdas untuk menghubungkan nilai-nilai tradisi, ekonomi, dan kebanggaan lokal. Dari dapur tradisional hingga meja modern, cita rasa kerbau membawa pesan penting:
Bahwa kekuatan sejati bangsa terletak pada kemampuannya mengolah yang lokal menjadi kebanggaan nasional.
Mari kita dukung bersama lahirnya identitas baru kuliner Sumatera Selatan — yang tak hanya lezat, tapi juga memberdayakan.
Karena dari rawa Pampangan, kita bisa menunjukkan kepada dunia bahwa kemandirian pangan Indonesia bisa dimulai dari seekor kerbau.
“Dari rawa yang tenang lahir kekuatan besar — dari kerbau yang sederhana tumbuh kebanggaan bangsa.”(fdl)