- by 27DERAJAT.COM
- May, 16, 2025 01:16
Teheran, Iran — Dalam salah satu eskalasi militer paling signifikan di Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir, Republik Islam Iran telah melancarkan gelombang serangan rudal dan drone besar-besaran ke wilayah Israel dan juga ke pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan. Serangan ini diumumkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai balasan langsung atas serangan militer besar yang dilakukan AS dan Israel beberapa hari sebelumnya yang menewaskan sejumlah pemimpin tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Serangan militer yang diumumkan pada Minggu (1 Maret
2026) itu dikatakan sebagai gelombang keenam serangan rudal dan drone oleh IRGC
yang menargetkan setidaknya 27 titik strategis di seluruh wilayah Israel dan
pangkalan AS. Di antaranya termasuk Pangkalan Udara Tel Nof di Israel tengah,
markas besar angkatan darat Israel, dan kompleks industri militer di Tel Aviv.
Dalam siaran resminya, Iran menyatakan bahwa mereka tidak
akan membiarkan sirene peringatan di Israel dan pangkalan AS “menjadi hening,”
menunjukkan komitmen keras mereka untuk terus melakukan balasan yang bertahap
namun kuat terhadap tindakan AS-Israel.
Dampak Langsung Serangan Iran di Israel
Serangan rudal Iran yang menargetkan wilayah Israel
terjadi dalam konteks konflik berkelanjutan setelah operasi militer gabungan
AS-Israel yang menghantam berbagai fasilitas di Iran. Salah satu dampak paling
mencolok dari serangan Iran adalah hantaman rudal terhadap kota Tel Aviv, yang
menyebabkan setidaknya satu orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Warga
sipil dan layanan darurat Israel melaporkan insiden tersebut dan telah merawat
para korban di rumah sakit setempat.
Sementara itu, laporan lain menunjukkan bahwa serangan
balasan Iran terus berlanjut di beberapa wilayah, termasuk negara tetangga Tel
Aviv seperti Doha di Qatar, di mana sistem radar pangkalan militer dilaporkan
rusak dan beberapa orang luka akibat konflik yang semakin melebar.
Latar Belakang Eskalasi Konflik
Konflik antara Iran, Israel, dan AS memuncak setelah
serangan militer gabungan yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir
Februari 2026, yang dikenal sebagai operasi militer intensif menargetkan
fasilitas militer, sistem pertahanan, dan para pemimpin Iran. Operasi ini
menurut berbagai laporan melibatkan serangan udara dan rudal ke sejumlah lokasi
di Iran, termasuk ibu kota Teheran, dan menyebabkan kerusakan infrastruktur
serta korban jiwa di kalangan sipil dan militer Iran.
Kematian Khamenei dalam serangan itu semakin memicu
amarah di Tehran, memicu deklarasi masa berkabung nasional dan komitmen dari
IRGC untuk membalas. Iran pun memberikan pernyataan bahwa respons militer
mereka bukan hanya ditujukan kepada Israel, tetapi juga pangkalan militer AS di
seluruh kawasan.
Reaksi Internasional Atas Serangan Iran
Eskalasi militer ini telah memicu reaksi keras dari
negara-negara di seluruh dunia. Beberapa negara mengutuk serangan militer,
sementara seruan untuk gencatan senjata dan dialog diplomatik meningkat di
forum internasional, termasuk di PBB. Ketegangan juga berdampak pada stabilitas
ekonomi global, terutama terkait harga energi dan jalur perdagangan di Timur
Tengah.
Potensi Dampak Lanjutan
Para pengamat internasional memperingatkan bahwa perang
ini berisiko melebarkan konflik ke negara tetangga lainnya dan menimbulkan
korban sipil lebih besar, dengan kemungkinan pertikaian berkepanjangan antara
kekuatan regional dan global. Juga, banyak negara kini tengah mempertimbangkan
langkah diplomatik untuk meredakan ketegangan setelah gelombang serangan
balasan yang semakin intensif ini.
Kesimpulan: Serangan Iran ke Israel merupakan bagian dari
eskalasi besar dalam konflik yang juga melibatkan Amerika Serikat, menandai
fase baru yang lebih intens dalam ketegangan regional dan global. Serangan ini
bukan sekadar insiden militer, tetapi juga mencerminkan konflik geopolitik yang
kompleks dengan dampak luas bagi keamanan internasional.(*)