- by 27DERAJAT.COM
- Mar, 16, 2025 04:18
PT Sukatani Perkasa Ekspor 2,1 Ton Kelapa
Palembang — Pemerintah
Provinsi Sumatera Selatan resmi meluncurkan aplikasi Go-Export sekaligus
melakukan pelepasan ekspor komoditas unggulan Sumatera Selatan di Pelabuhan
Boombaru Palembang, Selasa siang (15/12/2025). Kegiatan ini menjadi tonggak
penting dalam upaya memperkuat posisi Sumsel sebagai salah satu provinsi
penghasil komoditas ekspor strategis di tingkat nasional maupun internasional.
Gubernur Sumatera Selatan menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni peluncuran aplikasi baru. Menurutnya, Go-Export membawa spirit besar untuk meningkatkan gengsi dan daya saing Sumatera Selatan di panggung internasional. “Hari ini kita berkumpul bukan hanya untuk launching aplikasi, tetapi menunjukkan bahwa Sumatera Selatan adalah provinsi penghasil berbagai komoditas unggulan dengan volume besar,” ujarnya.
Gubernur menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak terkait eksportir ini. Gubernur, juga menyampaikan jika Sumsel memiliki kekayaan komoditas yang lengkap, tidak hanya minyak, gas, dan batubara, tetapi juga sektor perkebunan dan pertanian. Luasan karet yang hampir mencapai satu koma empat juta hektare, kopi dengan ratusan ribu hektare yang terkenal dengan varietas robusta dan arabika, serta komoditas unggulan lainnya menjadi modal besar untuk ekspor.
Namun demikian, Gubernur menekankan bahwa keunggulan kuantitas saja tidak cukup. Diperlukan integrasi dan kerja sama yang solid antara pemerintah provinsi, kabupaten dan kota, serta seluruh pemangku kepentingan. “Tidak mungkin kita bekerja sendiri-sendiri dengan ego sektoral. Ekspor ini harus menjadi kerja bersama,” tegasnya.
Ia juga menyinggung tantangan infrastruktur pelabuhan yang dihadapi Sumatera Selatan. Seiring dengan pemekaran wilayah di masa lalu, Sumsel kini hanya memiliki Pelabuhan Boombaru sebagai pelabuhan utama dengan keterbatasan draft. Kondisi ini mendorong Pemprov Sumsel untuk terus mengupayakan pembangunan pelabuhan samudra baru guna mendukung kelancaran arus ekspor dan impor.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur menyebutkan tiga komoditas yang menjadi fokus awal dalam peluncuran Go-Export, yakni komoditas perikanan berupa Paha Kodok, Kelapa, dan Kopi. Menurutnya, langkah awal ini harus diambil dengan keberanian agar produk unggulan Sumsel semakin dikenal dan dicari di pasar global.
Gubernur juga menekankan pentingnya dampak ekspor terhadap pendapatan daerah. Selama ini, banyak komoditas Sumsel diekspor melalui pelabuhan provinsi lain sehingga label asal daerah tidak tercatat sebagai Sumatera Selatan. Kondisi tersebut berdampak pada minimnya penerimaan bagi hasil pajak dan perhatian pembangunan, meski petani dan pelaku usaha bekerja di wilayah Sumsel. “Ekspor ini adalah kinerja yang komprehensif. Kita harus membina dari hulu, mulai dari petani dan pelaku usaha, hingga ke hilir dan pasar internasional,” katanya. Ia berharap semangat kebersamaan yang terbangun melalui launching Go-Export ini terus terjaga demi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Sumatera Selatan, Sri Ekandari, mengatakan aplikasi Go-Export lahir sebagai tindak lanjut dari target yang diberikan Gubernur Sumatera Selatan agar Karantina berkontribusi nyata dalam mendukung ekspor komoditas kopi asal Sumatera Selatan. “Sumatera Selatan menyumbang sekitar 27 persen produksi kopi nasional dengan varietas robusta dan arabika. Bahkan baru-baru ini Kabupaten Lahat berhasil melakukan ekspor perdana kopi liberika ke Malaysia,” ujarnya.

Menurutnya, proses hulu hingga hilir komoditas kopi dan produk unggulan lainnya harus disinergikan, termasuk penerapan pengeringan dan penyimpanan biji kopi yang higienis dan berkelanjutan. Langkah ini penting agar produk Indonesia mampu bersaing di pasar global, terutama di tengah isu keamanan pangan internasional.
Sri Ekandari menyebutkan, aplikasi Go-Export dilengkapi dengan sistem barkod yang memuat identitas eksportir, asal bahan baku, hingga dokumen persyaratan ekspor. Sistem ini memudahkan pengawasan oleh OPD, Karantina, dan pihak terkait terhadap kesehatan, keamanan, serta kualitas komoditas berbasis ketertelusuran.
Meski fitur Go-Export saat ini masih terbatas untuk beberapa komoditas seperti kopi, aplikasi ini dinilai sebagai terobosan baru Sumatera Selatan karena mampu mengintegrasikan dokumen persyaratan ekspor di tingkat provinsi. Pada kesempatan yang sama juga dilakukan pelepasan ekspor komoditas unggulan secara simbolis, di antaranya kelapa bulat tujuan China dan minyak kelapa mentah tujuan Malaysia.
Salah satu eksportir komoditas unggulan asal Sumatera Selatan kembali mencatatkan langkah penting di pasar internasional. Melalui PT Sukatani Perkasa, eksportir tersebut melakukan pengiriman perdana minyak kelapa mentah atau crude coconut oil ke Malaysia dengan volume sebanyak 21 metric ton.
Perwakilan eksportir, William Chandra menjelaskan, pengiriman perdana ini setara dengan 21 ribu kilogram dan menjadi awal dari kerja sama ekspor yang lebih besar ke negara tetangga tersebut. Malaysia dipilih sebagai negara tujuan karena tingginya permintaan terhadap produk turunan kelapa dari Indonesia, khususnya dari Sumatera Selatan. “Ini pengiriman perdana ke Malaysia. Permintaannya cukup besar, sehingga kami memulai kerja sama ekspor dari sana,” ujarnya di sela pelepasan ekspor di Pelabuhan Boombaru Palembang.
Untuk tahun ini, pihak perusahaan telah mengantongi nota kesepahaman atau kontrak ekspor dengan total volume mencapai 21 ton. Pengiriman dilakukan secara bertahap, sekitar empat kali pengapalan yang dibagi dalam beberapa segmen sesuai jadwal dan kebutuhan mitra.
Nilai kontrak ekspor tersebut
diperkirakan mencapai sekitar Rp. 2 miliar. Sementara untuk satu kali
pengiriman perdana, nilai transaksi berada di kisaran Rp600 juta. Kerja sama
ekspor ini dijalin bersama mitra dagang asal Malaysia, William Chandra.
Selain minyak kelapa mentah, PT Sukatani Perkasa juga mengekspor komoditas kelapa utuh ke beberapa negara tujuan. Namun demikian, sebagian produksi kini lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri yang juga terus meningkat. Minyak kelapa mentah yang diekspor ke Malaysia tersebut akan diolah kembali sebagai bahan baku berbagai produk industri, mulai dari sabun, kosmetik, sampo, hingga minyak goreng. Komoditas ini dinilai memiliki prospek cerah karena permintaan pasar yang stabil dan cenderung meningkat.
Eksportir berharap, pengiriman perdana ini menjadi pintu pembuka bagi perluasan pasar komoditas unggulan Sumatera Selatan di tingkat global. Dengan dukungan pemerintah daerah dan sistem ekspor yang semakin terintegrasi, peluang ekspor produk turunan kelapa dan komoditas lainnya diyakini akan terus berkembang. (rel/dil))