- by 27DERAJAT.COM
- Mar, 09, 2025 22:33
BEIRUT – Harapan akan berakhirnya pertumpahan darah di Lebanon kembali muncul setelah Amerika Serikat mengumumkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah pada Jumat (19/6). Namun, hanya beberapa saat setelah kesepakatan itu diumumkan, suara ledakan dan serangan udara masih terdengar di berbagai wilayah Lebanon selatan, memunculkan keraguan besar mengenai masa depan perdamaian yang tengah diupayakan.
Kesepakatan yang disebut-sebut menjadi bagian dari upaya meredakan ketegangan lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran itu lahir di tengah eskalasi konflik yang semakin mematikan. Dalam sehari terakhir, serangan udara Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya 47 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, serta melukai 97 lainnya. Di sisi lain, Hizbullah mengklaim berhasil menewaskan empat tentara Israel dalam pertempuran sengit di Lebanon selatan, termasuk seorang komandan batalion.
Meski militer Israel mengonfirmasi bahwa gencatan senjata telah diberlakukan, pernyataan lanjutan dari juru bicara militer Israel, Effie Defrin, menunjukkan situasi masih jauh dari kata tenang. Israel menegaskan akan terus melakukan operasi militer untuk melenyapkan ancaman yang dianggap membahayakan keamanan negaranya. Sementara itu, tim penyelamat di Nabatieh melaporkan sedikitnya 12 serangan udara masih terjadi setelah waktu resmi gencatan senjata mulai berlaku pada pukul 16.00 waktu setempat.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem menyatakan kelompoknya tidak akan tunduk pada tekanan militer Israel. Ia menegaskan bahwa upaya menghancurkan Hizbullah telah gagal dan pasukan Israel pada akhirnya akan dipaksa meninggalkan wilayah Lebanon. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa meskipun kesepakatan damai telah diumumkan, kedua pihak masih mempertahankan sikap keras dan saling menunjukkan kekuatan.
Situasi semakin rumit karena kesepakatan ini juga menjadi ujian bagi pengaruh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap sekutunya. Iran menuding Washington gagal mengendalikan Israel, sementara Trump sendiri secara terbuka mengkritik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas serangan yang menyebabkan banyak korban sipil. Di Israel, tekanan politik domestik juga terus meningkat agar operasi militer terhadap Hizbullah dilanjutkan hingga kelompok tersebut benar-benar melemah.
Ketegangan bertambah panas setelah Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan kanan ekstrem, Itamar Ben Gvir, melontarkan pernyataan kontroversial yang menyerukan tindakan lebih keras terhadap Lebanon menyusul kematian tentara Israel. Pernyataan tersebut langsung menuai kecaman dan memperkuat kekhawatiran bahwa kelompok garis keras di kedua kubu dapat menggagalkan proses perdamaian yang sedang dibangun.
Di Lebanon, kabar gencatan senjata disambut dengan perasaan campur aduk. Banyak warga yang telah berbulan-bulan hidup di pengungsian mengaku sulit mempercayai bahwa kesepakatan itu benar-benar akan dihormati. Pengalaman masa lalu membuat mereka skeptis. "Kami semua menginginkan damai, tetapi Israel berkali-kali melanggar perjanjian yang sudah dibuat," ujar seorang warga kepada Reuters.
Pekan depan, Amerika Serikat berencana mempertemukan kembali delegasi Lebanon dan Israel dalam pembicaraan langsung di Washington guna membahas langkah menuju perdamaian jangka panjang. Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa penghentian total serangan Israel merupakan syarat utama agar perundingan dapat menghasilkan kemajuan nyata.
Konflik yang menyeret Lebanon ke dalam pusaran perseteruan Israel, Iran, dan Amerika Serikat telah meninggalkan luka mendalam. Data Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 3.900 orang tewas dan sekitar 11.600 lainnya terluka sejak perang terbaru pecah. Selain itu, hampir satu juta warga terpaksa mengungsi, sementara puluhan desa dan permukiman di Lebanon selatan hancur rata dengan tanah.
Kini, dunia menanti apakah gencatan senjata yang diumumkan tersebut akan menjadi awal perdamaian yang sesungguhnya, atau hanya jeda singkat sebelum gelombang kekerasan berikutnya kembali mengguncang Timur Tengah. Di tengah puing-puing bangunan dan jutaan harapan yang tersisa, rakyat Lebanon kembali menjadi pihak yang paling merasakan mahalnya harga sebuah perang.(Bnu)