- by 27DERAJAT.COM
- Mar, 21, 2025 03:13
FAKTUALSUMSEL, EMPAT LAWANG - Langit cerah Pulau Mas, Kelurahan Pasar Tebing Tinggi, menjadi saksi tekad besar Pemerintah Kabupaten Empat Lawang yang menyatakan perang terhadap rabies. Dalam momentum Peringatan Hari Rabies Dunia yang dilaksanakan pada hari Jum'at (17/10/2025), semangat kebersamaan dan gotong royong menggema di setiap penjuru lokasi acara. Inilah langkah awal menuju cita-cita besar: Empat Lawang Bebas Rabies Tahun 2028.
Pernyataan perang ini disampaikan secara resmi oleh Asisten III Setda Empat Lawang, Suharlan, S.Sos, yang membacakan pidato Bupati Empat Lawang, Dr. H. Joncik Muhammad. Dalam pidatonya, Bupati menegaskan bahwa rabies bukan hanya penyakit hewan, tetapi ancaman terhadap keselamatan manusia.
“Kita tidak boleh menunggu korban berikutnya. Rabies adalah musuh bersama, dan kita harus tumpas dari tanah Empat Lawang! Ini bukan tugas dinas tertentu saja, tapi gerakan seluruh masyarakat. Gotong royong adalah vaksin sosial kita,” tegasnya dalam pidato penuh semangat. Gerakan Bersama: Kolaborasi Jadi Senjata Utama. Acara ini dihadiri oleh seluruh unsur Forkompinda, OPD terkait, organisasi masyarakat, dan komunitas pecinta hewan.
Yang menarik, Ketua TP PKK Kabupaten Empat Lawang, Hj. Hepy Safriani, M.Kes, turut hadir bersama Ibu Bhayangkari Polres dan Persit Kartika Chandra Kirana Kodim Empat Lawang. Kehadiran mereka menjadi simbol kuat bahwa gerakan bebas rabies adalah gerakan bersama—lintas profesi, lintas gender, dan lintas sektor. Kepala Dinas Pertanian Empat Lawang, Hendra Lezi, menjelaskan bahwa wilayah Empat Lawang memiliki 10 kecamatan, namun saat ini hanya diperkuat oleh dua dokter hewan aktif, yaitu drh. Rahmat Zenudin dan drh. Rini Purnamasari.
Meski terbatas, semangat mereka tak pernah padam. “Dengan tenaga terbatas kami tetap berkomitmen, sebab semangat masyarakat adalah tenaga tambahan kami. Kalau semua kepala desa, Babinsa, Babinkamtibmas, Satpol PP, dan OPD lain ikut bergerak, maka tugas besar ini akan terasa ringan. Kuncinya gotong royong,” ujar Hendra penuh optimisme.
Warga Antusias: Ratusan Hewan Divaksin, Kesadaran Meningkat Momentum peringatan ini juga menjadi ajang edukasi publik. Ratusan warga membawa anjing dan kucing peliharaan mereka untuk divaksin gratis. Bahkan, komunitas pemburu babi hadir membawa anjing-anjing mereka, ikut mendukung gerakan bebas rabies. Komunitas penyayang kucing pun tak ketinggalan berpartisipasi, memperlihatkan wajah masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya pencegahan rabies.
Suasana penuh keakraban namun sarat pesan moral. Tim dokter hewan bersama petugas Dinas Pertanian aktif memberikan penyuluhan langsung tentang cara mencegah rabies, mengenali tanda-tanda hewan tertular, hingga langkah cepat penanganan bila terjadi gigitan. “Rabies itu bukan takdir, tapi akibat dari kelalaian. Kita bisa cegah kalau mau bergerak bersama,” ujar drh. Rini Purnamasari yang sejak pagi melayani vaksinasi sambil mengedukasi warga.
Dalam arahannya, Suharlan menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Semua elemen masyarakat harus ikut ambil bagian. “Rabies hanya bisa dikalahkan bila semua bergerak bersama. Jangan ada satu pun desa yang lengah. Setiap anjing dan kucing harus divaksin, setiap warga harus tahu bahaya rabies,” katanya. Ia menambahkan, target Empat Lawang Bebas Rabies 2028 bukan sekadar slogan, tapi janji moral pemerintah kepada warganya. Program vaksinasi massal akan terus dilaksanakan secara berkelanjutan, disertai pengendalian hewan penular rabies (HPR) liar dan peningkatan kesadaran masyarakat.
Bupati Joncik Muhammad: “Keselamatan Jiwa Masyarakat adalah Prioritas!” Di tempat terpisah, Bupati Empat Lawang, Dr. H. Joncik Muhammad, kembali menegaskan komitmennya terhadap gerakan bebas rabies. Menurutnya, keselamatan jiwa masyarakat adalah prioritas utama pemerintah daerah. “Saya tekankan, keselamatan jiwa masyarakat Empat Lawang adalah prioritas. Hentikan kasus rabies sekarang juga dengan tindakan nyata—lakukan vaksinasi terhadap semua anjing di Empat Lawang, tanpa terkecuali. Kita tidak boleh menunggu korban. Ini tugas kemanusiaan, bukan hanya program,” tegas Bupati dengan nada penuh kepedulian.
Bupati juga mengapresiasi peran semua pihak, mulai dari tenaga medis hewan, aparat desa, hingga komunitas pemburu dan pecinta hewan, yang telah ikut aktif dalam gerakan vaksinasi massal. Ia menilai, solidaritas masyarakat adalah modal utama untuk menghapus rabies dari bumi Empat Lawang.
Empat Lawang kini memancarkan obor harapan baru. Di tengah keterbatasan sumber daya, semangat kolektif tumbuh kuat. Dari desa ke desa, dari dusun ke dusun, semangat gotong royong meluas. Setiap vaksin yang disuntikkan bukan hanya perlindungan bagi hewan, tapi juga simbol cinta terhadap kehidupan manusia. Pemerintah daerah pun tengah menyiapkan langkah-langkah lanjutan:
* Pembentukan Desa Siaga Rabies di seluruh kecamatan.
* Edukasi rabies di sekolah-sekolah dan pesantren.
* Pelatihan kader desa untuk deteksi dini dan penanganan HPR.
* Kolaborasi lintas sektor dengan Polres, Kodim, Dinas Kesehatan, dan organisasi masyarakat.
“Kita tidak sedang melawan hewan, kita sedang melawan virus. Senjata kita adalah kepedulian, pengetahuan, dan gotong royong,” ujar Suharlan menutup acara dengan penuh semangat. Dengan tekad yang menyala dan kolaborasi lintas sektor yang solid, Empat Lawang kini melangkah mantap menuju 2028 — tahun di mana daerah ini akan berdiri tegak sebagai wilayah bebas rabies. “Rabies bukan kutukan, ia bisa dicegah. Lindungi hewan peliharaanmu, lindungi keluargamu, dan jadilah bagian dari sejarah: EMPAT LAWANG BEBAS RABIES 2028.” (fdl)