- by 27DERAJAT.COM
- Mar, 16, 2025 04:18
Palembang — Peluncuran program Sumatera Selatan Health Tourism disambut antusias oleh pelaku industri perjalanan wisata. Ketua ASPPI Sumsel, Mgs Moh Isnaini F, yang akrab disapa Evad, menegaskan bahwa asosiasi tour and travel siap mengambil peran strategis sebagai penggerak utama pemasaran wisata kesehatan di Bumi Sriwijaya.
Menurut Evad, apa yang disampaikan Gubernur Sumatera Selatan dalam pencanangan health tourism bukan sekadar gagasan, melainkan arah kebijakan yang jelas dan realistis. Ia menyebut, sejak awal pelaku wisata memang menantikan terobosan yang mampu menghubungkan sektor pariwisata dengan layanan kesehatan secara konkret. “Ini bukan program dadakan. Ini memang sudah lama dinantikan. Pak Gubernur tadi sangat detail menjelaskan konsepnya, dan kita sebagai pelaku usaha wajib mendukung penuh,” ujarnya.
Evad menilai, dalam rantai ekosistem health tourism, travel agency berada di posisi terdepan. Agen perjalanan bukan hanya menjual tiket dan destinasi, tetapi juga menjadi pihak pertama yang berhadapan langsung dengan calon wisatawan dan pasien. “Kami ini yang pegang tombak di depan. Kalau bicara paket, promosi, dan pengalaman wisatawan, travel agent yang menjalankan,” katanya.
Ia menjelaskan, konsep health tourism menuntut kolaborasi erat antara sektor kesehatan dan pariwisata. Layanan kesehatan yang unggul tidak akan maksimal tanpa dukungan promosi yang tepat, sementara pariwisata akan semakin kuat jika dikawinkan dengan layanan kesehatan yang memiliki nilai tambah. “Ini simbiosis mutualisme. Kesehatan dan pariwisata saling menghidupi. Bukan saling menunggu,” tegas Evad.
ASPPI Sumsel, lanjutnya, siap mendorong agar seluruh paket wisata inbound ke Sumatera Selatan mulai memasukkan unsur wisata kesehatan, terutama layanan ringan dan menengah seperti medical check up, wellness, layanan preventif, dan promotif. “Kita mulai dari yang ringan dulu. MCU, wellness, kebugaran. Untuk layanan kuratif berat, itu nanti akan mengikuti ketika kepercayaan sudah terbentuk,” jelasnya.
Evad menekankan pentingnya kejelasan data layanan unggulan rumah sakit. Menurutnya, jika setiap rumah sakit di Sumsel memiliki pemetaan layanan unggulan yang jelas, maka travel agent dapat dengan mudah menyusun paket wisata kesehatan yang tepat sasaran. “Orang datang harus langsung tahu, oh jantung di sini, kanker di sana, estetik di sini. Itu yang membangun brand,” katanya.
Ia bahkan membayangkan setiap rumah sakit memiliki Health Tourism Corner, ruang khusus yang menyajikan informasi layanan melalui video, brosur, dan tur fasilitas. Dengan begitu, wisatawan atau pasien tidak hanya datang untuk berobat, tetapi juga mendapatkan pengalaman yang informatif dan nyaman. “Sekali datang, orang dapat banyak informasi. Sekali jalan, dapat dua sampai tiga manfaat,” ujarnya.
Menurut Evad, pengembangan health tourism tidak akan menggeser wisata yang sudah ada. Justru sebaliknya, akan saling menarik dan memperkuat. Ia menilai Sumsel tidak perlu membandingkan diri dengan Bali, karena masing-masing daerah memiliki keunggulan sendiri. “Bali unggul di budaya dan alam. Kita unggul di layanan dan fasilitas kesehatan. Itu bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk dimaksimalkan,” katanya.
Ia mencontohkan paket wisata tiga hari dua malam yang dikombinasikan dengan layanan MCU. Wisatawan dijemput, menikmati kuliner khas Palembang, menjalani pemeriksaan kesehatan, lalu kembali berwisata sambil menunggu hasil pemeriksaan. “MCU satu hari selesai. Sambil nunggu, orang bisa jalan-jalan, makan pempek, belanja. Ini pengalaman yang menyenangkan,” ujarnya.
Evad optimistis, pengembangan health tourism Sumsel akan bergerak bertahap, dimulai dari pasar regional antarprovinsi. Ketika provinsi tetangga mulai datang, branding akan terbentuk secara alami. “Awalnya mungkin kita kaget, belum terasa. Tapi ketika dicek, ternyata sudah banyak yang datang. Dari situlah nama Sumsel akan naik,” katanya.
Menutup pernyataannya, Evad menegaskan ASPPI Sumsel siap menjadi mitra aktif pemerintah dan rumah sakit dalam menyukseskan program ini. “Kalau semua jalan bersama—pemerintah, rumah sakit, dan travel agent—health tourism Sumsel bukan sekadar wacana. Ini bisa jadi kekuatan ekonomi baru daerah,” pungkasnya.(ddil)