Tuesday, Jul 21, 2026

Ancaman Trump Guncang Perundingan Swiss, Delegasi Iran Tinggalkan Lokasi Negosiasi


Mentri luar negeri Iran tinggalkan pertemuan dengan US

Swiss - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Teheran. Situasi tersebut bahkan berdampak pada jalannya perundingan yang berlangsung di Swiss, ketika delegasi Iran dilaporkan meninggalkan lokasi pembicaraan pada Minggu (21/6).

Kantor Berita Iran, IRNA, melaporkan bahwa para delegasi Republik Islam Iran keluar dari gedung tempat negosiasi berlangsung setelah menggelar pertemuan dengan delegasi Qatar yang bertindak sebagai salah satu mediator dalam proses diplomasi tersebut. Langkah itu terjadi di tengah memanasnya hubungan kedua negara akibat pernyataan terbaru Trump.

Menurut laporan IRNA, ancaman yang disampaikan Trump melalui media sosial menjadi salah satu pemicu meningkatnya ketegangan selama proses negosiasi. Presiden AS itu kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran, bahkan mengancam akan melakukan serangan militer yang lebih besar apabila Teheran tidak menghentikan dukungannya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon.

“Iran harus segera menghentikan proksi mereka yang dibayar mahal di Lebanon agar tidak menimbulkan masalah. Jika tidak, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan pekan lalu, bahkan lebih keras lagi,” tulis Trump dalam unggahan di platform Truth Social.

Meski demikian, sumber diplomatik yang mengetahui jalannya perundingan menyebut Iran belum sepenuhnya menarik diri dari meja perundingan. Kepada AFP, diplomat yang enggan disebutkan namanya itu menegaskan bahwa delegasi Iran masih terlibat dalam pembicaraan dan belum menyampaikan niat resmi untuk meninggalkan proses negosiasi.

Pernyataan Trump segera mendapat respons tegas dari Teheran. Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya siap memberikan balasan atas segala bentuk ancaman yang datang dari Washington. Ia mengingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran memiliki berbagai opsi untuk merespons tindakan apa pun yang dianggap mengancam kedaulatan negara.

“Sebaiknya mereka berhati-hati dengan pernyataan mereka. Angkatan bersenjata kami siap menanggapi dengan cara yang berbeda. Apa pun yang mereka katakan, kamilah yang bertindak,” tegas Ghalibaf.

Situasi ini menjadi sorotan internasional karena sebelumnya AS dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni lalu sebagai kerangka menuju perjanjian damai yang lebih komprehensif. Dalam kesepakatan tersebut, kedua negara sepakat menghentikan konflik di berbagai front, termasuk di Lebanon, serta berkomitmen untuk tidak melakukan serangan militer di masa mendatang.

Selain itu, kesepakatan juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz yang sempat ditutup Iran setelah serangan gabungan AS-Israel pada Februari lalu. Namun perkembangan terbaru menunjukkan situasi masih jauh dari stabil. Iran kembali menutup jalur pelayaran strategis tersebut sebagai respons terhadap serangan Israel terhadap Hizbullah, memunculkan kekhawatiran baru mengenai keamanan kawasan Timur Tengah dan stabilitas pasokan energi global.(Bnu)

author

27DERAJAT.COM

Ancaman Trump Guncang Perundingan Swiss, Delegasi Iran Tinggalkan Lokasi Negosiasi

Please Login to comment in the post!

you may also like